PERSALINAN TANPA RASA SAKIT : TREN BARU KENYAMANAN BAGI IBU MELAHIRKAN

mr-soffin.jpgDr. H. Soffin Arfian, Sp. OG

I. PENDAHULUAN

Persalinan dan kelahiran adalah kejadian fisiologi yang normal yang mana kelahiran seorang bayi merupakan peristiwa sosial yang dinantikan ibu dan keluarga selama 9 bulan. Ketika persalinan dimulai, peranan ibu adalah untuk melahirkan bayinya, sedangkan peran petugas kesehatan adalah memantau persalinan dan mendeteksi dini adanya komplikasi selama persalinan, disamping juga bersama keluarga memberikan bantuan dan dukungan pada ibu bersalin.

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks , dan janin turun ke dalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18-24 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.

Persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu :

Kala I : dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm) . Proses ini berlangsung antara 18-24 jam terbagi dalam 2 fase, fase laten ( ± 8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif ( ± 7jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm dengan kecepatan ± 1 cm perjam. Kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif.

Kala II : dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.

Kala III : dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahir sampai lahirnya plasenta , yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.

Kala IV : dimulai pada saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum.

Ibu hamil selalu menantikan saat-saat membahagiakan melahirkan seorang bayi, akan tetapi rasa senang itu dapat mendadak menjadi saat-saat yang mengerikan karena terbayang kesakitan yang sangat saat melahirkan. Hal ini memerlukan pengertian, bantuan dan dukungan bagi ibu hamil yang akan melahirkan tersebut. Dan berbagai cara dilakukan agar ibu melahirkan dalam keadaan yang tidak terlalu sakit dan nyaman. Salah satu yang dikembangkan saat ini adalah Suntikan Analgesia Epidural ( Intrathecal Labour Analgesia ) atau Persalinan Tanpa Rasa Sakit ( Painless Labor ).

II. Persalinan Tanpa Rasa Sakit

Tiga hal penting dan perlu diperhatikan untuk menghilangkan rasa sakit persalinan adalah : Keamanan, kemudahan dan jaminan terhadap homeostasis janin. Ibu bersalin yang diberikan analgesia harus dimonitor dengan baik. Menurut Read ( 1944 ) intensitas nyeri persalinan berhubungan dengan tingkat emosional. Beberapa faktor yang berhubungan dengan meningkatnya intensitas nyeri persalinan dan kelahiran adalah : Nuliparitas, Induksi Persalinan, Usia Ibu yang masih muda, Riwayat ‘Low Back Pain’ yang menyertai menstruasi dan peningkatan berat badan ibu ataupun janin. Dari semua ini, prediktor yang paling penting adalah nuliparitas dan induksi persalinan ( Pacuan ). Nyeri persalinan ini dapat diantisipasi dengan latihan / senam hamil.

Survei terakhir anestesi obstetri di Amerika Serikat menunjukkan peningkatan persentase penggunaan I L A pada ibu bersalin dari 22% pada tahun 1981 menjadi 51% pada tahun 1992 di rumah-rumah sakit dengan sedikitnya 1500 kelahiran pertahun.

NYERI PERSALINAN & I L A

Kontraksi ritmik uterus dan dilatasi servik yang progresif pada kala I menyebabkan sensasi nyeri selama kala I persalinan. Impuls saraf aferen dari servik dan uterus ditransmisikan ke medula spinalis melalui segmen Thorakal 10 – Lumbal 1. Hal ini biasanya akan menyebabkan nyeri pada daerah perut bagian bawah dan daerah pinggang serta sakrum. Berbeda dengan kala I, pada kala II transmisi melalui segmen Sakral 2 – 4, dan nyeri disebabkan oleh regangan pada vulva/vagina dan perineum yang juga bertumpang tindih dengan nyeri akibat kontraksi uterus.

Keuntungan I L A :

1. Efektif menghilangkan nyeri persalinan selama kala I dan II persalinan.

2. Memfasilitasi kooperasi ( Kerjasama ) pasien selama persalinan dan kelahiran.

3. Anestesi untuk tindakan episiotomi atau Persalinan Pervagina dengan Tindakan Operatif ( PPTO ).

4. Dapat untuk anestesi operasi sesar ( Time Related ).

5. Tidak menyebabkan depresi napas baik pada janin maupun ibu yang disebabkan oleh opioid.

Tindakan I L A ini seharusnya hanya dilakukan oleh seorang yang ahli dan ditempat yang memiliki fasilitas, alat dan obat-obatan untuk resusitasi. Termasuk didalamnya adalah oksigen, suction dan alat-alat / obat-obatan resusitasi kardioplulmonar. Dan tindakan I L A dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap ibu dan janin serta kemajuan persalinannya. I L A tidak diberikan sebelum diagnosa persalinan sudah ditegakkan dan sebelum ibu bersalin meminta untuk meredakan nyeri persalinannya.

Ada beberapa kontraindikasi dari I L A yaitu :

1. Persangkaan Disproporsi Kepala Panggul ( Resiko Ruptura Uteri ).

2. Penolakan oleh pasien.

3. Perdarahan Aktif

4. ‘Maternal Septicemia’

5. Infeksi disekitar lokasi suntikan.

6. Kelainan Pembekuan darah.

Efek I L A pada persalinan diantaranya adalah dapat memperpanjang kala I dan II persalinan, dan meningkatkan penggunaan oksitosin untuk akselerasi persalinan serta penggunaan instrumentasi pada kelahiran dengan menggunakan tarikan vakum atau forsep. I L A tidak signifikan meningkatkan angka operasi sesar.

Yang perlu disadari disini bahwa penggunaan I L A untuk ‘Painless Labor’ adalah untuk mengatasi nyeri persalinan, sedangkan perjalanan proses persalinan itu sendiri adalah tetap. Jadi tidak berarti bahwa dengan I L A akan pasti dapat lahir pervaginam. Tindakan sesar adalah atas dasar indikasi Obstetri.

Yancey dkk ( 1999 ) melaporkan dari Tripler Army Hospital, Hawaii, setelah ada kebijakan tentang I L A, maka tindakan I L A meningkat dari 1% menjadi 60% dalam 2 tahun setelah kebijakan dikeluarkan. Dan angka operasi sesar tetap yaitu dari 13,4% menjadi 13,% setelah tindakan ini.

King & Fung ( 2000 ) melaporkan dari Puli Christian Hospital, Nantou, Taiwan, dari 822 ibu yang melahirkan, Angka operasi sesar antara kelompok epidural adalah 11,1% dibandingkan pada kontrol 16,2%. Sedangkan pada Nulipara proporsi operasi sesar adalah 11,6% pada kelompok epidural dibandingkan 25% pada kelompok kontrol.

Tindakan ILA ini dilakukan setelah pembukaan serviks 3-5 cm , kecuali bila dilakukan induksi dengan oksitosi tindakan dapat diakukan lebih awal. Akan tetapi secara umum tindakan ILA dilakukan setelah diagnosa persalinan telah ditegakkan dan pasien telah meminta untuk meredakan nyeri persalinannya .

Komplikasi dari tindakan ILA yang paling sering adalah hipotensi. Untuk itu diperlukan pemberian cairan elektrolit isotolus sebelum tindakan . Komplikasi yang lain adalah sakit kepala, retensio urin ,meningitis ,kejang ,akan tetapi ini adalah komplikasi yang jarang terjadi. Dua komplikasi yang umum terjadi adalah Hipotensi dan sakit kepala.

Crawford ( 1985) dari Birmingham Maternity Hospital, Inggris melaporkan mulai dari 1968 –1985 lebih dari 26.000 pasien mendapatkan ILA dan tidak ditemukan adanya kematian., jadi tindakan ini cukup aman.

PEMANTAUAN PERSALINAN

Persalinan harus dipantau baik dari status umum maupun kemajuan persalinannya. Yang perlu dievaluasi adalah : Denyut Jantung Janin, His ( Kontraksi Uterus ), Penurunan bagian terendah janin, Lingkaran retraksi Bandl. Kemajuan persalinan dievaluasi sesuai dengan pembukaan servik dengan penurunan bagian terendah janin ( kepala ) sesuai partograf atau kurva Friedman.

Penting juga untuk diketahui bahwa karena nyeri persalinan telah hilang, maka reflek ingin mengejan pada kala II pun akan berkurang sensasinya, sehingga diperlukan edukasi pada ibu dan diberitahu kapan harus mengejan. Pimpinan persalinan harus baik melibatkan ibu dan penolong.

Kesimpulan

1. I L A adalah tindakan untuk meredakan nyeri persalinan, dan proses persalinan berjalan seperti biasa.

2. Tindakan hanya dilakukan bila diagnosis persalinan telah ditegakkan dan pasien telah meminta untuk dilakukan prosedur meredakan nyeri persalinan.

3. Pemantauan status umum dan kemajuan persalinan harus dilakukan dengan baik selama tindakan I L A dilakukan.

4. Komunikasi, informasi dan Edukasi untik pasien sangat penting terutama dalam kerjasama pimpinan persalinan.

5. Walaupun memiliki beberapa resiko tampaknya Intrathecal Labour Analgesia untuk Persalinan tanpa Rasa Sakit memiliki banyak keuntungan dan membawa kenyamanan tersendiri bagi ibu melahirkan dengan keamanan yang cukup.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG et al, Analgesia and Anesthesia in : Williams Obstetrics, 21st edition, Mc.GrawHill, 1997, p. 361 – 383.

2. Baskett PJF et al, Epidural Anesthesia and Analgesia in : Practical Procedures in Anesthesia and Critical Care, Mosby, 1995, p. 240-251.

3. Vincent RD, Chestnut DH, Epidural Analgesia During Labor, The American Academy of Family Physicians, November, 15,1998.

4. Leslie NG , Intrathecal narcotics for labour analgesia:the poor man’s epidural CJRM 2000;5(4):226-9.

5. King B, Fung P, Continous Epidural Analgesia for Painless Labor Does Not Increase the Incidence of Cesarian Delivery, Acta Anaesthesiol Sin, 38:79-84, 2000.

6. Persalinan Normal; dalam Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2000, Hal. 100-121.

6 Tanggapan so far »

  1. 1

    astri said,

    Selamat sore pak?
    Saya mau tanya kalo komunikasi yang dilakukan oleh bidan/dokter memiliki peran dalam mengurangi rasa sakit bagi ibu yang melahirkan normal tidak? Seberapa besar peran komunikasi dalam mengurangi rasa sakit saat melahirkan? Kemudian bagaimana bentuk komunikasinya. Terimakasih

    mBak Astri yth.
    Rasa sakit dalam proses persalinan dapat dikurangi dengan cara pendampingan oleh keluarga dan penolong persalinan. Di samping itu, ada cara yang lebih klinis yakni dengan ILA (Intrathecal Labor Analgesia) yakni Ibu yang akan melahirkan disuntik dengan bius sehingga rasa sakitnya menjadi hilang sementara proses persalinan tetap berjalan seperti biasa. Di sisi yang lain, komunikasi yang dibangun oleh bidan atau dokter pada dasarnya berdampak pada faktor psikologis sehingga dengan komunikasi yang baik, seorang bidan atau dokter dapat memberi motivasi pada ibu yang melahirkan sehingga rasa percaya diri dapat terbangung dengan baik, sementara kecemasan atau ketakutan dapat terkurangi.

    Jawaban oleh dr. H. Soffin Arfian, Sp.OG.

  2. 2

    nila kusuma a.l said,

    selamat pagi dok..
    saya mau bertanya tentang kemungkinan melahirkan normal bagi ibu yang pernag cesar dipersalinan pertama.
    7 tahun yang lalu saya melahirkan scr cesar anak pertama saya di rs panti nugroho yogya. sekarang saya sdg hamil usia 33 mg.
    menurut dokter saya untuk persalinan yang sekarang kalau mau normal syarat2nya ketat.
    dan sepertinya dari arah pembicaraan beliau, disarankan untuk cesar lagi.
    saya ingin tahu dok apakah benar kalau pernah cesar untuk melahirkan normal banyak kendalanya?
    apa yang harus saya lakukan untuk bisa melahirkan normal dok?
    apakah metode hypnobirthing bisa membantu?
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih, apabila dokter bersedia memberi saran terbaik untuk saya.

    Persalinan kedua dengan cara normal bagi ibu yang telah mengalami persalinan dengan operasi sesar (UBAC) itu bisa saja terjadi Bu, Asal saja indikasi sesar yang dulu ibu alami bukan merupakan indikasi yang menetap seperti panggul sempit. Ada 50 % kemungkinan ibu bisa melahirkan secara normal. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan senam hamil dan jalan-jalan (dengan suami lebih asyik ya Bu ?), sedangkan Hypnobirthing belum teruji secara klinis bu…

    Jawaban oleh dr. H. Soffin Arfian, Sp.OG

  3. 5

    Janti said,

    DH,
    5 tahun yl saya partus secara cesar. Sampai sekarang saya tidak memahami tindakan dokter yang melakukan operasi terhadap saya. Kronologisnya jam 15:00 saya ke rumah sakit. Setelah diperiksa internal, pembukaan serviks 5. Jam 17:00, pembukaan telah mencapai 7. Pada saat itulah saya langsung disuruh baring di meja bersalin. Dan tanpa menjelaskan kepada saya, dokter langsung memecah ketuban dan memberikan infus induksi. Sang dokter langsung pergi meninggalkan rumah sakit untuk praktek sore di tempat lain. Kontraksi yang saya rasakan pada saat itu semakin lama semakin intens dan tidak ada jeda selama 2 jam. Rasa mengedan juga semakin kuat dan tidak berhenti. Pada saat itu, perawat memberikan instruksi supaya saya selalu baring kiri dan tidak boleh mengedan. Karena tidak tahan, saya minta diberikan ILA. Tapi oleh perawat, saya malah disuruh cesar saja. Oleh karena pada saat itu saya sudah tidak tahan, akhirnya saya menjalani partus secara cesar juga.
    Setelah 5 tahun berlalu, saya hamil dan berkeinginan menjalani partus secara normal lagi. Apakah ILA kontraindikasi untuk pasien dengan keadaan seperti saya? Thx dok!

    Memahami kondisi yang disampaikan ibu Janti, menurut saya persalinan normal pada ibu masing sangat dimungkinkan. Tetapi untuk ILA sudah tidak direkomendasikan oleh karena bila terjadi rupture/robek peranakannya maka hal itu tidak terasa sakit oleh ibu. Kondisi yang demikian sangat berbahaya bagi ibu. Oleh karena itu, sebaiknya ibu pandai-pandai menjaga kehamilan ibu dengan senantiasa memeriksakan diri ke dokter ahli kandungan sehingga kondisi kesehatan ibu dan janin dapat terpantau dengan baik.

    Jawaban oleh dr. H. Soffin Arfian Sp.OG

  4. 6

    endry said,

    wah hebat mas

    2 thumb up deh untuk waktu menyempatkan nulis di blog diantara sc dan ANC


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: