MENGENAL LEBIH DEKAT KALENDER HIJRIYAH

َ

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An’am : 96)

abi.jpgSudah menjadi hal yang sangat akrab di masyarakat ketika ditanyakan tanggal berapa hari ini ? maka secara spontan dan tepat akan dijawab dengan menunjuk pada tanggal kalender masehi. Akan tetapi, apabila yang ditanyakan adalah tanggal berapa dalam kalender Hijriyah, masyarakat yang ditanya tentu akan mengerutkan dahi, atau berpikir keras bahkan banyak yang menggelengkan kepala karena tidak tahu. Inilah satu hal yang sangat ironis, masyarakat yang mayoritas beragama Islam, memiliki kalender Islam namun mereka tidak familier dengan kalender Islam sehingga tidak tahu penanggalan Islam. Kita pada posisi yang mana ?

Sejarah Kalender Hijriyah

Muhammad bin Jarir Ath-Thobari dalam kitabnya Tarikh Umam wal Muluk atau yang lebih dikenal dengan kitab Tarikh At-Thobari menjelaskan bahwa pada suatu saat setelah tepat 5 tahun Umar bin al-Khattab menjadi khalifah beliau mengirim surat kepada gubernur Kuffah waktu itu, Abu Musa Al-Asy’ariy. Dalam suratnya, Umar bin al-Khatttab ternyata tidak mencantumkan tanggal pembuatan surat sehingga Abu Musa Al-Asy’’ari memberi balasan surat yang menanyakan surat-surat yang diterimanya tanpa tanggal. Setelah menerima surat balasan dari Abu Musa Al-Asy’ari maka Amirul Mu’minin Umar bin al-Khattab mengumpulkan para tokoh dan para sahabat yang ada di Madinah untuk membicarakan rencana pembuatan Tarikh atau kalender Islam serta kapan kalender Islam itu dimulai. Dalam musyawarah itu, banyak para sahabat yang menyampaikan pendapatnya tentang titik awal perhitungan kalender Islam, diantaranya :

² Ada yang berpendapat sebaiknya tarikh Islam dimulai dari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW.

² Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul.

² Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Rosululloh di Isro Mi’rojkan .

² Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Pada musyawarah itu, Ali bin Abi Thalib menyampaikan pendapatnya bahwa sebaiknya kalender Islam dimulai dari tahun ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah. Akhirnya musyawarah yang dipimpin oleh Amirul Mukminin Umar Bin Khattab menyepakati pendapat yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib tersebut sehingga kalender Islam yang direncanakan serta didasarkan pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW disebut dengan kalender Hijriyah.

Sistem Kalender Hijriyah

Di tanah Arab sebelum Islam datang, telah dikenal system kalender yang berbasis campuran antara system Bulan (Qomariyah-Lunar system) dengan system Matahari (Syamsiyah-Solar system). Aplikasi percampuran dua sistem itu oleh masyarakat Arab masih disinkronkan dengan musim yang terjadi pada saat itu sehingga dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi). Di samping itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”, karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Makkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu propinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia).

Kemudian, di masa Nabi Muhammad SAW, pada tahun ke 9 setelah Hijrah, Allah melarang penambahan hari (interkalasi) pada system penanggalan yang dipakai umat Islam karena bida mengacaukan sistem perhitungan bulan dalam setahun. Hal ini sebagaimana firman Allah di dalam surat At-Taubah ayat 36-37 :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ(36)إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ(37(

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(QS. At-Taubah : 36-37)

Di dalam kalender Hijriyah terdapat 12 bulan sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah di atas. Nama-nama keduabelas bulan itu sudah ada jauh sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi karena masyarakat Arab menggunakan nama kedua belas bulan tersebut didasarkan pada siklus musim yang ada di tanah Arab. Kedua belas bulan itu adalah Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Ula, Jumadats Tsaniyah, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah. Sedangkan perhitungan harinya adalah 7 hari dalam satu minggu yang nama-namanya adalah: al-Ahad (Minggu), al-Itsnayn (Senin) ats-Tsulaatsaa’ (Selasa), al-Arbi’aa’ (Rabu), al-Khamiis (Kamis), al-Jum’aat (Jum’at) dan as-Sabt (Sabtu).

Pada Kalender Hijriyah penentuan pergantian harinya berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriyah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Di samping itu, jumlah hari setiap bulan tidak selalu tetap, bisa 29 atau 30 hari. Hal ini dikarenakan jumlah hari dalam satu tahun bisa 354 (tahun basit) atau 355 (tahun kabisat). Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Dalam kondisi yang sebenarnya, siklus sinodik bulan sangat bervariasi. Oleh karenanya maka jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari). Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut diistikmalkan atau dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal di masing-masing daerah atau tempat.

Kondisi peredaran bulan mengelilingi bumi dan juga peredaran benda langit yang lain termasuk matahari, sesungguhnya menjadi tanda bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Dari peredaran benda-benda langit yang tetap itu maka manusia bisa menghitung waktu, hari bahkan hitungan tahun serta perhitungan yang lain. Hal ini sebagaimana firman Allah :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(5)

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.(QS. Yunus : 5)

Di ayat yang lain Alah menjelaskan tentang bagaimana proses peredaran matahari dan bulan, serta peredaran bulan yang lebih cepat dibanding dengan peredaran matahari. Allah berfirman :

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ(38)وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ(39)لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ(40)

dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.(QS. Yasin : 38-40)

Dalam proses inilah kemudian memunculkan kriteria-kriteria penentuan tanggal satu bulan baru pada kalender Hijriyah yang sering menjadi kontroversi dikalangan umat Islam. Kriteria-kriteria itu antara lain Ijtima’ qablal ghurub, wujudul hilal, imkanurru’yah, ru’yah serta ijtima’ qablal fajr. Kriteria-kriteria tersebut kadang berbeda dalam hasil penentuannya seperti penentuan awal Syawwal 1428 H. tetapi suatu saat bisa sama seperti penentuan awal Zulhijjah 1428 H.

Hikmah Pergantian Tahun Baru Hijriyah

Dalam setiap pergantian tahun masehi, banyak masyarakat yang disibukkan dengan berbagai acara yang diselenggarakan untuk memperingatinya. Sangat berbeda dengan pergantian tahun Hijriyah, mungkin karena kalah populer dengan tahun Masehi, maka masyarakat banyak yang tidak memperingatinya. Seandainya kita termasuk orang yang tahu dan ingat tentang pergantian tahun Hijriyah itu, apa yang dapat kita laksanakan ? Tentu banyak hal yang dapat kita lakukan. Bukan hura-hura, makan bersama atau pawai di jalan raya sambil berjoged dan bernyanyi-nyanyi akan tetapi yang kita lakukan adalah banyak merenung. Hal-hal yang dapat kita renungkan adalah :

1. Bersyukur

Bersyukur merupakan cermin diri seorang yang beriman kepada Allah. Begitu banyak nikmat yang telah dikaruniakan kepada manusia tetapi kadang manusia lalai dari mensyukuri kenikmatan itu. Allah Berfirman :

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا(3)

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.(QS. Al-Insan : 3).

Pergantian tahun merupakan momentum yang sangat tepat untuk dijadikan sebagai titik tolak upaya untuk memperbaiki sikap syukur kita kepada Allah. Dari kenikmatan Allah yang diberikan itu, banyak yang bisa kita jadikan bahan renungan, salah satunya adalah umur. Di dalam Al-Quran, Allah banyak sekali menyinggung tentang anjuran untuk memperhatikan umur. Sebagaimana firman Allah :

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ(11)

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.(QS. Fathir : 11).

Umur yang kita hitung pada diri kita seringkali kita tetapkan berdasarkan hitungan kalender Masehi. Dan hitungan atau jumlah usia kita tentu akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan hitungan yang mengacu pada kalender hijriyah. Sementara, lepas dari masalah ajal yang akan datang menjemput sewaktu-waktu, terkadang kita menganggap usia kita dibanding Rasulullah saw. yang wafat pada usia 63 tahun, kita merasa masih jauh dari angka itu. Padahal bisa jadi hitungan umur kita telah lebih banyak dari yang kita tetapkan. Karena itu sangat tidak layak apabila seseorang yang masih diberi kesehatan, kelapangan rizki dan kesempatan untuk beramal lalai bersyukur pada Allah dengan mengabaikan perintah-perintah-Nya serta sering melanggar larangan-larangan-Nya

2. Muhasabah dan banyak Istighfar

Allah SWT berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(18)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hasyr : 18).

Ayat ini mengingatkan kepada kita untuk senantiasa melakukan evaluasi amal kita pada masa yang sudah lewat serta merencanakan dan menyiapkan amal-amal yang lebih baik di masa-masa yang akan datang.

Sudah menjadi pengetahuan kita bersama bahwa waktu yang sedang kita jalani atau yang sudah lewat tidak akan mungkin bisa kembali lagi, di sisi yang lain sadar atau tidak sadar sesungguhnya kematian akan mendatangi kita tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, sementara yang paling bermanfaat pada saat seperti adalah amal saleh. Pertanyaannya, sudah sebanyak apakah amal saleh yang kita kerjakan ?

3. Mengenang Hijrah Rasulullah SAW

Tercatat dalam sejarah bahwa hijrah adalah peristiwa keberangkatan nabi besar Muhammad
s.a.w. dan para sahabatnya dari kota Makkah menuju kota Yathrib, yang
kemudian disebut al-Madinah al-Munawwarah. Peristiwa Hijrah ini pula yang menjadi titik awal tahun penanggalan hijriyah mempunyai banyak hikmah yang sangat berharga bagi kaum muslimin, diantaranya :

Pertama: Berpindahnya Rasulullah dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang sangat penting bagi setiap muslim. Hal ini dikarenakan hijrah merupakan peristiwa titik awal kebangkitan Islam yang pada awalnya diliputi suasana tidak kondusif di kota Makkah menuju titik harapan yang prospektif di kota Madinah..

Kedua: Sikap pantang menyerah yang ditunjukkan oleh Rasulullah ketika berhijrah memberi pelajaran kepada kita untuk senantiasa mempunyai semangat berjuang tanpa putus asa, semangat ini diikuti pula dengan keinginan berpindah dari hal-hal yang buruk kepada yang baik, serta berpindah dari hal-hal yang baik menuju hal-hal yang lebih baik di masa yang akan datang.

Ketiga: Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan
oleh Rasulullah s.a.w. pada saat beliau menyatukan antara kaum
Muhajirin dengan kaum Anshar dalam ikatan persaudaraan yang kuat, bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi maupun Nasrani yang hidup di Madinah dan sekitarnya.

4. Mempopulerkan kalender Hijriyah

Sebagai seorang muslim tentu kita bangga mempunyai kalender Hijriyah, hanya saja, kita prihatin masih banyak kaum muslim yang belum mengenal dengan kalendernya sendiri, kalender Hijriyah. Maka tidak ada alasan untuk menunda dalam mensosialisasikan serta membiasakan diri dengan kalender hijriyah baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di lingkungan kantor atau lembaga-lembaga islam.

Contoh yang paling praktis dan terlihat sepele adalah dengan senantiasa mencantumkan tanggal hijriyah di dalam surat yang dibuat, serta pembuatan kalender Hijriyah oleh lembaga-lembaga Islam sehingga kalender Hijriyah lebih dikenal luas oleh masyarakat pada umumnya serta umat Islam pada khususnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: